Rabu, 25 September 2013

Tiga Tokoh Estetika



Plato
Lahir pada 427SM di Athena. Plato berasal dari keluarga bangsawan, ayahnya merupakan keturunan dari raja terakhir Athena, sedangkan ibunya adalah ahli hukum ternama. Plato mempelajari filsafat dari Sokrates. Skorates menganggap Plato sebagai teman dan sekaligus muridnya. Pada tahun 387SM Plato mendirikan “Akademia” di Athena.
Politeia (Republik) merupakan salah satu karya terkenal Plato. “Plato adalah seorang yang Idealis” (Idealisme). Ia percaya bahwa semua yang ada di dunia berasal dari Idea. Idea merupakan sebuah prinsip universal yang memungkinkan sesuatu untuk ada. Bersifat tidak subjektif, tidak konkrit, tetapi abstrak karena hanya bisa ditangkap oleh nalar kita. Bersifat kekal, artinya tidak berawal dari seseorang dan tidak berakhir dari seseorang, dan benar untuk selamanya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Plato seorang yang idealis.
*         Dunia Ide Dunia Penampakan
Dunia ide merupakan dunia abstrak atau di luar inderawi. Sedangkan dunia penampakan merupakan dunia yang kita tinggali. (Alegori Gua[Pillegory of the care])
Kata kunci pemikiran plato :
1.       Kebenaran yang sejati.
2.     Kebenaran yang kekal.
3.    Kebnaran yang didapat melalui kapasitas akal atau nalar.
Menurut Plato, pengalaman estetika tidak terlalu penting karena dirasakan oleh inderawi. Tubuh tidak mendekatkan kita pada idea, justru tubuh menjauhkan kita dari idea.
*         Seni adalah imitasi (mimesis mimeseos)
“Tiruan dari tiruan”
Seni menjauhkan kita dari kebenaran yang sesungguhnya. Plato keberatan terhadap seni karena seni semakin jauh dari idea dan seni bersifat emosional.
Aristoteles
Lahir pada tahun 384SM di Stragyra, Yunani Utara. Aristoteles belajar di Akademia selama 18 tahun. Pada tahun 342SM, Aristoteles diundang ke Makedonia sebagai guru pribadi Iskandar Agung Muda. Pada tahun 335SM Aristoteles kembali ke Athena dan mendirikan “Lyceum”. Lalu pada tahun 323SM, ia kabur dari Athena ke Kalas karena dituduh menyebarkan atheisme.
*         Hyle morfisme :
Metafisika empiris Aristoteles. Aristoteles bersifat empiris.
Hyle -  “Materi”
Kemungkinan suatu benda untuk mempunyai bentuk.
Morfisme “Bentuk”
Prinsip yang memberikan aktualitas atau kenyataan pada materi.
Keduanya (Hyle-morfisme) bersumbe dari segala yang ada di dunia.
Empat panyebab (causes) sesuatu itu ada :
1.      Penyebab material (causa materialis)
2.   Penyebab formal (causa formalis)
3.   Penyebab efisian (causa efficiens)
4.   Penyebab final (causa finalis)

Contoh penjelasan :
Membuat kue.
1.      Causa materialis : tepung, telur, mentega, gula, dll.
2.   Causa formal : telur dikocok, masukkan gula, dll. (cara memasak)
3.   Causa efficiens : motoriknya, kita menggunakan mixer, kita menggerakkan mixernya. Hubungan kita dengan mixer.
4.   Causa finalis : tujuan dibuatnya suatu hal. Kue untuk dimakan
*         Seni dan Katharsis atau Pemurnian
Menurut Aristoteles seni adalh sesuatu yang baik, berharga karena memancing kita pada titik puncak emosi lalu mengalami katharsis yaitu proses memurnikan kita dari perasaan atau emosi-emosi.

Plotinus
Masa hidup 205 (Mesir) 270 (Roma). Plotinus menetap di Alexandria dan membuat rangkuman atas “Filsafat Timur”
Plotinus disebut sebaga Neo-Platonis karena mengajarkan kembali ajaran Plato tentang kkebenaran sejati, selain itu ia juga mengajarkan tentang ajaran Aristoteles juga. Karya terkenalnya adalah Enneads, yang diterbitkan oleh muridnya Pofirius.
Metafisika Plotinus :
Tahap Remanasi :
1.      Pemurnian Diri
2.   Kontemplasi
3.   Penyatuan atau Peleburan
Estetika Plotinus merupakan keindahan dan kesakralan. Pembedaan antara “keindahan luar” dan “keindahan dalam” (Inner beauty atau outer beauty)
Keindahan luar : bentuk fisik karya seni.
Keindahan dalam : kreatifitas, imajinasi, khayalan, dll.
Kesenian menjadi sakral atau berharga bagi Plotinus karena bisa mendekatkan diri kepada Yang Tunggal atau Esa.


Selasa, 10 September 2013

Aesthetic. Friday, 6th September 2013


Apa itu Estetika?
Ketika beberapa orang mendengar kata estetika, sebagian besar orang menjawab estetika adalah keindahan/hal yang seimbang secara komposisi dan terlihat menarik menurut pandangan dari setiap individual masing-masing. Secara etimologi : Estetika berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu Aisthanomai yang artinya mengamati dengan indera.
 Beberapa definisi Estetika :  
  • Ilmu pengetahuan tentang pengamatan inderawi.
  • Adalah renungan filosofis tentang seni atau filsafat seni.
  • Tidak hanya menyelidiki yang indah, tetapi yang buruk juga.
  • Membicarakan masalah "cita rasa" (taste)  
Estetika adalah teori yang mencangkup :
  • Penyelidikan tentang yang indah.
  • Penyelidikan tentang prinsip-prinsip landasan seni.
  • Pengamatan yang berkaitan dengan seni, penciptaan seni, penilaian atau refleksi terhadap karya seni.
Pengalaman pembentuk Estetik :
1.     Kita adalah makhluk yang bertubuh (Embodied Beings)
Dapat diambil kesimpulan bahwa pengalaman apapun, termasuk pengalaman estetis berawal dari kenyataan bahwa kita adalah makhluk yang bertubuh. Yang dimaksud dengan "tubuh" adalah lapisan inderawi/fisik dan mental/akal.
2.     Kita adalah makhluk yang terus berubah.
Pengalaman estesis, sebagai pengalaman yang bertubuh dapat medorong terjadinya perubahan atau transformasi.
3.     Kita adalah makhluk yang kognitif.
Kita bisa berfikir tentang apa yang kita alami, sehingga kita bisa menilainya. Penilaian atau kognisi

Mengapa Kita Harus Peduli Dengan Estetika?
Kita harus peduli dengan Estetika karena kita diciptakan sebagai makhluk yang estesis dan memiliki pengalaman dasar sebagai manusia. Lain halnya dengan hewan, contoh gajah yang dapat melukis. Gajah bisa melukis, tetapi apakah gajah bisa menilai bahwa lukisan-nya indah? Apakah ia berfikir bahwa lukisannya memiliki nilai seni?  Maka dari itu bisa dikatakan bahwa gajah bukan makhluk yang estesis.

Apa Yang Kita Dapat Dari Estetika?
Yang kita dapat adalah memberi cara untuk mengartikulasikan penilaian-penilaian sehingga mempunyai cara atau metodologi.